Blogger templates

Tampilkan postingan dengan label Masa Kehamilan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masa Kehamilan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Mei 2011

Bengkak saat Hamil Bisa Menjadi Indikator Preeklampsia

Indikator Preeklampsia 
JIKA kaki Anda bengkak pada saat hamil, itu wajar. Tapi jika pada saat kaki Anda bengkak dan Anda pusing atau sakit kepala, Anda harus berhati-hati. Bisa saja Anda terkena preeklampsia atau yang biasa disebut dengan keracunan kehamilan. Jika tidak diatasi, preeklampsia bisa berakibat fatal. Apa sebetulnya penyebab penyakit ini? Bagaimana pula cara pengobatannya?

Menurut dr Otamar SpOG, ahli kandungan dari Rumah Sakit MMC, preeklampsia atau keracunan kehamilan adalah kumpulan suatu gejala. Ibu hamil mana pun akan dapat mengalami preeklampsia. Tapi yang lebih berisiko adalah ibu hamil yang baru pertama kali hamil, ibu dengan kehamilan bayi kembar, ibu yang menderita diabetes, yang punya hipertensi sebelum hamil, yang memiliki masalah dengan ginjal, dan yang hamil pertama di bawah usia 20 tahun atau di atas 35 tahun. Ibu, yang pernah mengalami preeklampsia pada kehamilan sebelumnya, kemungkinan besar mengalaminya lagi pada kehamilan berikutnya atau mungkin juga tidak.

Sayangnya, sampai saat ini penyebab preeklampsia masih merupakan misteri. "Orang banyak yang menduga berkaitan dengan teori. Ada prostaglanden, ada teori urine, ada juga yang berkaitan dengan pengentalan darah karena bisa mengakibatkan tekanan darah tinggi dan merusak dinding kapiler pembulu darah sehingga terjadi kebocoran dan proteinnya jadi ketarik," ungkap dr Otamar.



Kondisi preeklampsia sangat kompleks dan sangat besar pengaruhnya terhadap ibu maupun janin. Gejalanya sendiri dapat dikenali melalui pemeriksaan kehamilan yang rutin. Preeklampsia sendiri biasanya muncul pada trimester ketiga kehamilan, tapi bisa juga muncul pada trimester kedua. Gangguan ini, sekitar 7 persen, bisa berupa gangguan ringan maupun parah.

Secara klinis, gejala preeklampsia sendiri ditandai dengan penemuan tekanan darah yang tinggi maupun peningkatan tekanan darah daripada biasanya. Itu merupakan salah satu hal terpenting untuk menentukan apakah seorang ibu hamil mengalami preeklampsia atau tidak. Preeklampsia sendiri terbagi atas tiga. Preeklampsia ringan, sedang, maupun berat. Bila seorang terkena darah di atas 160/110 mlHg itu disebut preeklampsia berat dengan disertai tiga gejala yang tadi," terang dr Otamar.

Selain tekanan darah, gejala yang lain adalah bengkak. Bengkak ini dapat dengan mudah dikenali di daerah kaki dan tungkai. Pada keadaan yang lebih berat muncul bengkak di seluruh tubuh. Pembengkakan ini terjadi akibat pembulu kapiler yang bocor sehingga air yang merupakan bagian dari sel merembes keluar dan masuk ke dalam jaringan tubuh dan tertimbun di bagian tersebut. Terdapatnya kadar protein yang tinggi dalan urin juga merupakan gangguan ginjal. Gejala preeklampsia ringan dapat menunjukkan angka kadar protein urin lebih tinggi daripada 500 mb per 24 jam. Sementara itu, yang terparah dapat mencapai angka 5 gram dalam 24 jam. Pengeluaran urin sendiri pun kurang dari 400 ml per 24 jam.

"Biasanya pada usia kehamilan 5 bulan, tapi paling sering menjelang kehamilan. Terjadi preeklampsia pada saat hamil, proses persalinan dan setelah persalinan. Normalnya, orang setelah melahirkan itu tensi turun. Tapi kalau setelah melahirkan tensi malah meningkatkan, itu bahaya," lanjut dr Otamar.

Jika terkena preeklampsia, ada beberapa organ tubuh yang ikut terkena, antara lain otak, di mana terjadi pembengkakan di otak sehingga timbul kejang dengan penurunan kesadaran. Itulah yang biasa disebut dengan preeklampsia. Dapat pula terjadi pecahnya pembuluh darah dari otak akibat hipertensi. Selain itu, dapat pula menyerang paru-paru sehingga terjadi pembengkakan yang kemudian menyebabkan sesak napas yang hebat dan bisa berakibat fatal.

Janin yang dikandung oleh ibu hamil yang terkena preeklampsia akan hidup dalam rahim dengan nutrisi dan oksigen di bawah normal. Keadaan ini bisa terjadi karena pembulu darah yang menyalurkan darah ke plasenta menyempit karena buruknya nutrisi. Dengan demikian, pertumbuhan janin akan terhambat sehingga berat badan bayi yang lahir rendah. Atau bisa juga janin dilahirkan dalam hitungan kurang bulan (prematur) dan biru pada saat dilahirkan (asfiksia).

Pada penderita preeklampsia yang berat, janin harus segera dilahirkan. Ini dilakukan untuk menyelamatkan nyawa ibu tanpa melihat apakah si janin sudah dapat hidup di luar rahim atau tidak. Tapi adakalanya keduanya tak bisa ditolong. Oleh karena itu, ibu hamil harus melakukan pemeriksaan rutin dan berkonsultasi dengan dokter. Minimal setiap bulan pada kehamilan awal dan seminggu sekali menjelang kelahiran.

Untuk penyakit yang satu ini, cara pengobatannya tergantung pada gejala yang dihadapinya. Jika yang dialami adalah tekanan darah tinggi, sesegera mungkin tekanan darah diturunkan. Tekanan darah yang tinggi secara terus menerus membuat jantung bekerja ekstrakeras, yang pada akhirnya mengakibatkan kerusakan pembulu darah pada jantung, ginjal, otak, dan mata. Jika tekanan darah tinggi itu tidak segera diatasi, bisa muncul masalah atau kasus-kasus yang lebih serius, bahkan bisa menyebabkan kematian. Jika preeklampsia karena kebocoran, yang harus dilakukan adalah menjalankan diet dengan mengurangi konsumsi garam dan makanan berkolesterol.

Pengobatan hipertensi biasanya dikombinasikan dengan beberapa obat, yakni diuretic atau tablet Hydrochlorothiazide (HCT), Lasiz (Furosemide). Juga dapat digunakan Beta-blockers (Atenolol Tenorim), Capoten (Captopril). Obat ini dapat dikonsumsi dalam upaya pengontrolan tekanan darah melalui proses memperlambat kerja jantung dan memperlebar pembulu darah (vaso dilatasi).


Sumber: www.lifestyle.okezone.com

Senin, 31 Januari 2011

Pelihara Kucing Selagi Hamil, Bolehkah?

TOKSOPLASMA Gondii, adalah salah satu parasit yang terdapat pada kotoron anjing dan kucing. Parasit ini dapat menyebabkan penyakit toksoplasma. Jika ibu hamil terpapar dan menderita penyakit ini, akibatnya bisa fatal, keguguran atau bayi lahir cacat.

Begitu berbahayanya parasit yang satu ini membuat ibu hamil harus ekstrahati-hati dan tidak terpapar. Berbagai cara dapat dilakukan, di antaranya tidak memandikan, memberi makan hingga membersihkan kotorannya.

Jika tetap kekeuh ingin memelihara kucing, lalu melakukan tes TORCH, dan hasilnya negatif, tentu bisa berdampak pada ibu hamil dan janin. Apa saja? Dan, bisakah diobati?

"Selagi hamil, sebaiknya memang tidak memelihara kucing untuk sementara waktu. Kucing memang merupakan hewan yang bisa menularkan parasit toksoplasma gondii, penyebab penyakit toksoplasma.



Ibu hamil pelihara kucing bisa
menyebabkan keguguran
Parasit toksoplasma juga ditemukan pada hewan-hewan seperti anjing, tikus atau babi. Akan tetapi, di antara semua hewan tersebut, parasit toksoplasma hanya berkembang biak di tubuh kucing dan bisa ikut keluar bersama kotorannya, dalam bentuk telur," ungkap Dr Andrie Ronggani, SpOG dari RSIA Hermina Podomoro.

Hati-hati Tertular

"Walau Ibu sudah melakukan tes TORCH (Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus, dan Herpes) sebelum hamil dan hasilnya negatif, tetap waspada dengan kemungkinan tertular. Apalagi Ibu sangat dekat dengan kucing-kucing itu. Seseorang bisa tertular melalui makanan yang tercemar kotoran kucing yang mengandung telur parasit toksoplasma gondii tadi," papar Andrie.

Masih menurut Andrie, bisa juga akibat kontak langsung dengan kucing, mengelus dan lupa mencuci tangan setelahnya atau mencium bulu-bulu kucing di mana pada bulunya telah menempel telur parasit tadi.

"Apalagi, telur parasit itu tidak terlihat dan Ibu tidak tahu kapan stamina Ibu sedang menurun sehingga gampang terpapar," sambungnya.

Sebabkan Keguguran

Menurut Andrie, Bagi wanita yang memelihara kucing dan sedang merencanakan kehamilan atau sudah hamil, sebaiknya tidak memelihara kucing atau menjauhinya untuk sementara waktu. Pasalnya, bila bumil tertular toksoplasma, bisa berakibat buruk pada janin. Jika terkena pada awal trimester I dapat terjadi keguguran atau kematian janin, dan jika kehamilan berlanjut maka bisa menimbulkan kecacatan pada bayi dari tingkat sedang hingga berat.

Bagi bumil sendiri, gejala toksoplasma kadang tidak berdampak kecuali saat itu daya tahan tubuh sangat menurun karena parasit ini bersifat imunokompromais, sehingga bisa timbul rasa lelah, flu, nyeri kepala, atau demam.

Sayangnya, gejala itu ringan mirip influenza sehingga sering diabaikan. Untuk memastikan maka sebaiknya dilakukan cek darah TORCH di rumah sakit.

Pengobatan

Bila bumil terpapar toksoplasma, pengobatan dini yang tepat akan menurunkan secara signifikan kemungkinan janin terinfeksi. Dokter akan memberikan antiparasit dan antibiotik spiramicin untuk diminum selama minimal 3 bulan.

Tip Hindari Toksoplasma

Jika tidak ingin menitipkan kucing-kucing Ibu di tempat lain untuk sementara waktu, harap diperhatikan hal-hal berikut guna mencegah tertular:

1. Buatkan kandang di luar rumah dan rajin dibersihkan.
2. Selalu cuci tangan dengan sabun dan air mengalir sehabis bermain dengan hewan peliharaan.
3. Mintalah tolong untuk membersihkan kotoran kucing. Bila tidak, pakailah sarung tangan dan masker saat membersihkan kotorannya dan cuci tangan setelahnya.
4. Perhatikan kebersihan makanan, karena bulu-bulu hewan yang mengandung telur parasit yang terbang ke makanan susah terlihat.
5. Minum antiparasit dan antibiotik sesuai anjuran dokter.
6. Lakukan pemeriksaan rutin ke dokter kandungan.


Minggu, 30 Januari 2011

Ketika Buang Air Kecil Terasa Begitu Menyiksa!

Ketika Buang Air Kecil Terasa Begitu Menyiksa! 
KANIA (25) baru saja melahirkan secara normal dua hari lalu. Namun yang menjadi masalah adalah, ia kesulitan untuk buang air kecil (BAK) hingga saat ini. Rasanya seperti mau berkemih namun tidak kunjung keluar. Sesekali saat urine keluar, Kania merasakan nyeri seperti terbakar pada vaginanya.

Kasus Kania kerap pula dirasakan oleh moms lainnya setelah mengahadapi persalinan normal. Kira-kira apa ya penyebabnya? Bagaimana pula cara mengatasinya?

Retensio Urine

"Sesungguhnya problem yang dialami oleh Kania disebut dengan Retensio Urine. Retensio urine digambarkan sebagai ketidakmampuan berkemih spontan enam jam setelah selang berkemih (kateter) dilepas. Ataupun mampu berkemih tapi masih meninggalkan sisa urine di kandung kencing lebih dari 200 cc. Sisa urine itu dapat dibuktikan dengan memasang kembali kateter pascaberkemih," ungkap dr Dewi Ratih Hendarto Putri, SpOG, MSi. Med., dari Cinere Hospital.

Menurut Dewi, selama 24 jam setelah melahirkan normal, memang banyak ibu yang mengalami kesulitan BAK. Beberapa moms bahkan sama sekali tidak merasa ingin BAK, beberapa yang lainnya merasa ingin tapi tidak dapat melakukannya, ada pula yang bisa melakukannya namun disertai rasa nyeri dan seperti terbakar.

"Kandung kemih sangat perlu untuk dikosongkan dalam waktu enam sampai delapan jam setelah melahirkan, untuk menghindari terjadinya infeksi saluran kencing. Umumnya, pasien diharapkan dapat berkemih secara spontan dengan segala cara. Misalnya, berlatih buang air kecil di kamar mandi, bukan sambil telentang. Tapi, bila gagal, pemasangan kateter menjadi alternatif untuk mengosongkan kandung kemih," terang Dewi.

Namun demikian Dewi senantiasa mengingatkan, "Hal terpenting yang harus dipahami adalah bahwa kateter tidak boleh dipasang permanen. Kateter hanya dipasang selama 1x24 jam atau 2x24 jam, bergantung jumlah sisa urine di kandung kencing saat berkemih spontan pascapelepasan kateter. Dokter mungkin akan memberi tambahan obat antibiotika atau antiradang bila diperlukan."

Faktor Penyebab Retensio Urine

Agar tak bertanya-tanya ataupun salah kaprah, coba kenali beberapa faktor penyebab terjadinya retensio urine seperti yang diungkapkan oleh Dewi berikut:

* Bertambahnya kemampuan kandung kemih setelah rahim tak lagi dihuni janin. Setelah melahirkan, tekanan yang menghalangi kandung kemih telah hilang dan terjadi pengembangan kandung kemih. Hal itulah yang membuat kebutuhan untuk BAK menjadi berkurang.

* Trauma jalan lahir selama persalinan.

* Refleks kram pada urethral sphincter (klep saluran kencing) akibat dari ketakutan moms terhadap proses persalinan ataupun saat penjahitan.

* Penurunan tekanan dinding kandung kemih akibat proses kehamilan dan persalinan normal.

* Selama persalinan mungkin terjadi tekanan dan melukai kandung kemih yang mengakibatkan kelumpuhan sementara. Bahkan saat Moms ingin sekali buang air kecil tanda-tanda buang air kecil belum juga muncul.

* Obat-obatan atau anastesi yang mengurangi kepekaan kandung kemih, sehingga tanpa sengaja Anda tak menyadari adanya keinginan untuk BAK.

* Keluarnya keringat berlebihan saat persalinan, ditambah lagi jika Moms mengalami dehidrasi akibat kurang minum. Hal ini tentu saja memengaruhi isi kandung kemih.

* Terjadinya pembengkakan pada area perineum (area antara vulva dan anus).

* Adanya faktor psikologis seperti kurangnya privasi, malu, takut sakit dan juga tidak nyaman menggunakan pot untuk BAK.

Ditilik dari faktor-faktor penyebab di atas, maka jelas sudah mengapa retensio urine hanya dialami oleh mereka yang melahirkan secara normal.

"Jelas karena proses persalinan cesar itu sendiri tidak mengakibatkan trauma jalan lahir, luka pada kandung kemih, refleks kram pada saluran kencing, dan penurunan tekanan dinding kandung kemih. Sehingga tidak muncul faktor-faktor penyebab terjadinya retensio urine pada persalinan cesar," tutup Dewi.



(Mom& Kiddie//nsa)
http://lifestyle.okezone.com

Ketika Bumil Harus Duduk, Berdiri, & Jongkok

DUDUK begini salah, jongkok ribet, lama berdiri pegel! Duh, bagaimana sih posisi tubuh yang tepat? Yup, BuMil yang memasuki trimester tiga kerap mengeluhkan sakit pinggang. Apa pun yang dilakukannya terasa kurang nyaman, baik saat duduk bekerja di depan komputer, jongkok maupun berdiri.

Posisi dan Sikap Tubuh

Diakui dr. Trijatmo Rachimhadhi, SpOG (K) dari RSIA YPK Mandiri, Menteng, Jakarta Pusat, umumnya gejala nyeri pinggang sangat terasa saat kandungan memasuki usia 5 hingga 7 bulan, tetapi mungkin juga telah dirasakan saat minggu ke-8 hingga ke-12 usia kehamilan.

Penyebabnya beragam, mulai dari aktivitas fisik berlebihan (mengangkat benda berat), membungkuk, posisi tubuh yang tidak tepat saat duduk atau terlalu lama berdiri. Nyeri pinggang akan terasa lebih parah jika sebelum hamil sang ibu telah mengalami kondisi tersebut.

Posisi dan Sikap Tubuh

Prinsipnya, posisi jongkok, berdiri, duduk bagi wanita hamil sama saja seperti kala mereka tak hamil. Namun, karena adanya suatu beban dan pendorongan alat-alat organ dalam tubuh, maka perlu perhatian ekstra agar tetap nyaman dan rileks.

Berdiri

Sikap berdiri sama saja seperti sebelum hamil. Yaitu, berdiri dengan posisi tubuh lurus untuk mengendurkan otot-otot yang tegang, sehingga tubuh terasa lebih rileks. Sementara kalau berdiri agak membungkuk, justru akan menekan perut, terang dr. Muki Partono, SpOT dari RS. Jakarta.

Trijatmo menambahkan, Posisi berdiri sebaiknya jangan terlalu lama. Sebab, dengan adanya beban dalam perut maka penekanannya ke bawah. Aliran darah akan turun dan sulit kembali atau kurang lancar, sehingga bisa terjadi pelebaran pembuluh darah balik di kaki. Bila terpaksa harus berdiri dalam waktu lama, misalnya dalam perjalanan dengan angkutan umum, usahakan tidak bertumpu pada kedua kaki secara simetris melainkan bertumpu pada satu kaki bergantian dan buatlah serileks mungkin.

Muki pun memberi beberapa tip:


  • Bila harus bekerja dengan berdiri cukup lama, biasakan berdiri tegak dengan kedua kaki sedikit meregang, bahu tetap lemas, dada diangkat, dan pantat ditarik sambil menahan perut.
  • Agar tidak cepat lelah ketika berdiri, angkatlah salah satu kaki dan letakkan di atas penyangga kaki setinggi 10-15 cm guna menghindari tegangan di dasar punggung. Lakukan secara bergantian dengan kaki yang lain.
  • Bila mungkin, hentikan pekerjaan sejenak, lalu tempelkan tubuh bagian belakang pada tembok dengan posisi tegak lurus dan kaki diregangkan. Turunkan badan perlahan dengan menekuk kaki sampai terasa adanya tarikan di otot paha (jangan sampai terasa sakit).
  • Sempatkan beristirahat dan lakukan peregangan di kaki dan pergelangan kaki. Caranya, duduk di lantai dengan kaki lurus ke depan, lalu gerak-gerakkan pergelangan kaki dengan cara diputar-putar, tarik telapak kaki ke arah dalam, angkat tumit dengan ujung jari tetap di lantai, atau sebaliknya angkat ujung jari kaki sementara tumit tetap menempel di lantai. Bila merasa pusing, misalnya mengalami penurunan tekanan darah akibat berdiri terlalu lama, segera cari tempat yang nyaman untuk duduk atau beristirahat sejenak.


Duduk

Ibu hamil sebaiknya tidak duduk terlalu lama, minimal setiap dua jam sekali berkisar lima menit, berjalan-jalan sebentar agar sirkulasi darah tetap lancar dan menghindari pelebaran pembuluh darah balik. Apalagi semasa hamil, beban lebih besar dan berat, saran Trijatmo.

Cara duduk yang benar menurut Muki adalah:

1. Duduklah dengan punggung tegak, paha sejajar dengan lantai, dan telapak kaki menempel rata pada lantai. Jika kaki tak sampai, bisa dengan tempatkan bangku kecil di bawahnya sebagai pijakan kaki. Jangan biarkan kaki menggantung karena tak baik buat sirkulasi darah. Darah yang mengalir turun ke bawah akan sulit atau kurang lancar untuk kembali ke atas. Ganjal pula belakang punggung dengan bantal yang empuk dan jangan duduk menyilangkan kaki!

2. Bila Moms sedang sibuk di depan komputer atau duduk lama di depan meja untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, ambillah waktu beberapa menit untuk peregangan, paling sedikit setiap jam. Caranya, bangun dan lakukan gerakan seperti memutar kepala pelan-pelan. Atau, duduk di kursi dengan lutut terbuka, angkat kedua lengan sejajar dengan pundak, kemudian tarik ke depan sejauh mungkin. Lalu, putar tubuh ke kanan atau ke kiri seperti gerakan menggeliat.

Oh ya, posisi saat menggunakan laptop pun harus diperhatikan. Menurut Professor Joseph Sweere dari Northwestern Health Sciences University dan Charlotte J. Schmitz dari Ergontron, mata harus sejajar dengan layar laptop sehingga tulang leher dan tulang punggung tidak terlalu membungkuk.

Berjongkok

Seringkali bila ingin mengambil benda yang terjatuh, BuMil tak terlalu memerhatikan posisi tubuhnya. Padahal, seharusnya jangan langsung membungkukkan badan karena efeknya pada peregangan otot belakang dan keseimbangan.

Tarikan otot belakang yang terjadi menjadi tak seimbang sehingga bisa menimbulkan rasa sakit. Apalagi pada ibu hamil yang bebannya pun sudah berat, ujar Muki.

Untuk menghindari ketegangan otot-otot belakang, sebaiknya dalam mengambil benda yang terjatuh di lantai harus dengan menurunkan badan dan berjongkok.

Jika benda tersebut berada di kolong meja misalnya, cara mengambilnya dengan menurunkan badan dan kedua lutut ditekuk sambil membungkukkan badan. Jika akan berdiri kembali, sebaiknya sebelah tangan berpegangan atau bertumpu dan kaki pun mendorong tubuh untuk ke posisi berdiri. Jadi, yang digunakan adalah otot-otot tangan dan kaki, imbuh Muki.

2 Lokasi Rawan Nyeri Pinggang

Dikatakan Trijatmo, meskipun tak membahayakan, keluhan nyeri pinggang bila dibiarkan dan tak ditangani secara tepat, akan mengganggu aktivitas rutin BuMil, bahkan sakitnya akan terbawa hingga usai melahirkan!

Biasanya ada 2 titik lokasi tubuh BuMil yang kerap diserang oleh rasa nyeri, yaitu:
1. Pinggang bagian bawah atau lumbal
Nyeri dirasakan pada bagian atas pinggang di garis tengah tulang belakang, bisa atau tanpa penjalaran ke tungkai atau kaki. Biasanya nyeri timbul akibat posisi duduk atau berdiri terlalu lama atau melakukan pekerjaan mengangkat barang secara berulang. Akibatnya, otot-otot di sepanjang punggung akan terasa tegang.

2. Panggul bagian belakang
Nyeri ini lebih sering dirasakan dibandingkan nyeri pada pinggang bagian bawah. Rasa nyeri dirasakan sampai garis pinggang di atas tulang ekor dan cenderung meluas hingga ke pantat dan belakang paha, kadang juga disertai dengan nyeri tulang kemaluan.


(Mom& Kiddie//ftr)
http://lifestyle.okezone.com