Blogger templates

Selasa, 27 Juli 2010

Metoda Pengambilan Contoh Air Tanah

SNI 6989.58:2008 Air dan air limbah Bagian 58: Metoda pengambilan contoh air tanah.

Dalam rangka menyeragamkan teknik pengambilan contoh air limbah sebagaimana telah ditetapkan dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 37 Tahun 2003 tentang Metode analisis pengujian kualitas air permukaan dan pengambilan contoh air permukaan, maka dibuatlah Standar Nasional indonesia (Standar Nasional Indonesia (SNI) tentang), Air dan air limbah Bagian 58: Metode pengambilan contoh air tanah. SNI ini diterapkan untuk teknik pengambilan contoh air limbah sebagaimana yang tercantum di dalam Keputusan Menteri tersebut.

 

Metoda ini digunakan untuk pengambilan contoh air guna keperluan pengujian sifat fisika dan kimia air tanah.

Istilah dan definisi

air tanah :air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan tanah, antara lain sumur bor, sumur gali dan sumur pantek

akuifer : lapisan batuan jenuh air di bawah permukaan tanah yang dapat menyimpan dan meneruskan air

akuifer tertekan :akuifer yang dibatasi di bagian atas dan bawahnya oleh lapisan kedap air. Akuifer ini disebut pula akuifer artesis

akuifer tak tertekan : akuifer yang dibatasi di bagian atasnya oleh muka air tanah bertekanan sama dengan tekanan udara luar (1 atmosfer) dan dibagian bawahnya oleh lapisan kedap air

Kebutuhan Oksigen Biologi/KOB (Biologycal Oxcygen Demand, BOD) : kebutuhan oksigen biokimiawi bagi proses deoksigenasi dalam suatu perairan atau air limbah

Kebutuhan Oksigen Kimiawi/KOK (Chemical Oxcygen Demand COD) :kebutuhan oksigen kimiawi bagi proses deoksigenasi dalam suatu perairan atau air limbah

Nutrien : senyawa yang dibutuhkan oleh organisme yang meliputi fosfat, nitrogen, nitrit, nitrat dan amonia

Peralatan

Alat pengambil contoh

Persyaratan alat pengambil contoh air sumur bor

Alat pengambil contoh harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a) terbuat dari bahan yang tidak mempengaruhi sifat contoh;

b) mudah dicuci dari bekas contoh sebelumnya;

c) contoh mudah dipindahkan ke dalam wadah penampung tanpa ada sisa bahan tersuspensi di dalamnya;

d) mudah dan aman di bawa;

e) kapasitas alat tergantung dari tujuan pengujian.

Jenis alat pengambil contoh air sumur bor

Salah satu contoh alat pengambil contoh air sumur bor adalah alat Bailer yang terdiri dari tabung teflon dengan ujung atas terbuka dan ujung bawah tertutup dilengkapi dengan katup ball valve.

clip_image002

Jenis alat pengambil contoh air sumur gali

Salah satu contoh alat pengambil contoh air sumur gali terdiri dari botol gelas dan stainless steel yang ujung atasnya dapat di buka tutup dan terikat tali keatas sedangkan ujung bawah tertutup dan dilengkapi pemberat di bawah.clip_image002[7]

Alat pengukur parameter lapangan

Peralatan yang perlu dibawa antara lain (alat lapangan sebelum digunakan perlu dilakukan kalibrasi:

a. pH meter;

b. konduktimeter;

c. termometer;

d. meteran;

e. water level meter atau tali yang telah dilengkapi pemberat dan terukur panjangnya; dan

f. Global Positioning System (GPS).

Alat pendingin Alat ini dapat menyimpan contoh pada 4C 2C, digunakan untuk menyimpan contoh untuk pengujian sifat fisika dan kimia.

Alat penyaring, Alat ini dilengkapi dengan pompa isap atau pompa tekan serta saringan berpori 0,45 m.

Alat ekstraksi (corong pemisah), Corong pemisah terbuat dari bahan gelas atau teflon yang tembus pandang dan mudah memisahkan fase pelarut dari contoh.

Bahan

Bahan kimia untuk pengawet : Bahan kimia yang digunakan untuk pengawet harus memenuhi persyaratan bahan kimia untuk analisis dan tidak mengganggu atau mengubah kadar zat yang akan di uji (lihat Lampiran C).

Wadah contoh

Persyaratan wadah contoh

Wadah yang digunakan untuk menyimpan contoh harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a. terbuat dari bahan gelas atau plastik poli etilen (PE) atau poli propilen (PP) atau teflon (Poli Tetra Fluoro Etilen, PTFE);

b. dapat ditutup dengan kuat dan rapat;

c. bersih dan bebas kontaminan;

d. tidak mudah pecah;

e. tidak berinteraksi dengan contoh.

Persiapan wadah contoh

Lakukan langkah-langkah persiapan wadah contoh, sebagai berikut:

a. untuk menghindari kontaminasi contoh di lapangan, seluruh wadah contoh harus benarbenar dibersihkan di laboratorium sebelum dilakukan pengambilan contoh. wadah yang disiapkan jumlahnya harus selalu dilebihkan dari yang dibutuhkan, untuk jaminan mutu, pengendalian mutu dan cadangan.

b. jenis wadah contoh dan tingkat pembersihan yang diperlukan tergantung dari jenis contoh yang akan diambil, sebagai berikut:

Wadah contoh untuk pengujian senyawa organik yang mudah menguap (Volatile Organic Compound, VOC)

Siapkan wadah contoh untuk senyawa organik yang mudah menguap, dengan langkah kerja sebagai berikut:

a. cuci gelas vial, tutup dan septum dengan deterjen. Bilas dengan air biasa, kemudian bilas dengan air bebas analit;

b. bilas dengan metanol berkualitas analisis dan dikeringkan;

c. setelah satu jam, keluarkan vial dan dinginkan dalam posisi terbalik di atas lembaran aluminium foil;

d. setelah dingin, tutup vial menggunakan tutup yang berseptum.

CATATAN

Saat pencucian wadah contoh, hindari penggunaan sarung tangan plastik atau karet dan sikat.

Untuk beberapa senyawa organik yang mudah menguap yang peka cahaya seperti senyawa yang mengandung brom, beberapa jenis pestisida, senyawa organik poli-inti (Poli Aromatik Hidrokarbon, PAH), harus digunakan botol berwarna coklat.

Wadah contoh untuk pengujian senyawa organik yang dapat diekstraksi

Siapkan wadah contoh untuk senyawa organik yang dapat diekstraksi, dengan langkah kerja sebagai berikut:

a. cuci botol gelas dan tutup dengan deterjen. Bilas dengan air biasa, kemudian bilas dengan air bebas analit;

b. masukkan 10 mL aseton berkualitas analisis ke dalam botol dan rapatkan tutupnya, kocok botol dengan baik agar aseton tersebar merata dipermukaan dalam botol serta mengenai lining teflon dalam tutup.

c. buka tutup botol dan buang aseton. Biarkan botol mengering dan kemudian kencangkan tutu p botol agar tidak terjadi kontaminasi baru.

Wadah contoh untuk pengujian logam total dan terlarut

Siapkan wadah contoh untuk pengujian logam total dan terlarut, dengan langkah kerja sebagai berikut:

a. cuci botol gelas atau plastik dan tutupnya dengan deterjen kemudian bilas dengan air bersi h.

b. bilas dengan asam nitrat (HNO3) 1:1, kemudian bilas lagi dengan air bebas analit sebanyak 3 kali dan biarkan mengering, setelah kering tutup botol dengan rapat.

Wadah contoh untuk pengujian KOB, KOK dan nutrien

Siapkan wadah contoh untuk pengujian KOB, KOK dan nutrien, dengan langkah kerja sebagai berikut:

a. cuci botol dan tutup dengan deterjen kemudian bilas dengan air bersih;

b. cuci botol dengan asam klorida (HCl) 1:1 dan bilas lagi dengan air bebas analit sebanyak 3 kali dan biarkan mengering, setelah kering tutup botol dengan rapat.

Wadah contoh untuk pengujian anorganik non-logam

Siapkan wadah contoh untuk pengujian anorganik non-logam, dengan langkah kerja sebagai berikut:

a. cuci botol dan tutup dengan deterjen, bilas dengan air bersih kemudian bilas dengan air bebas analit sebanyak 3 kali dan biarkan hingga mengering;

b. setelah kering tutup botol dengan rapat.

Pencucian wadah contoh

Lakukan pencucian wadah contoh sebagai berikut:

a. Peralatan harus dicuci dengan deterjen dan disikat untuk menghilangkan partikel yang menempel di permukaan;

b. Bilas peralatan dengan air bersih hingga seluruh deterjen hilang;

c. Bila peralatannya terbuat dari bahan non logam, maka cuci dengan asam HNO3 1:1, kemudian dibilas dengan air bebas analit;

d. Biarkan peralatan mengering di udara terbuka;

e. Peralatan yang telah dibersihkan diberi label bersih-siap untuk pengambilan contoh.

Volume contoh

Volume contoh yang diambil untuk keperluan pemeriksaan di lapangan dan laboratorium bergantung dari jenis pemeriksaan yang diperlukan (lihat Lampiran C).

PENENTUAN TITIK PENGAMBILAN CONTOH

Titik pengambilan contoh

Titik pengambilan contoh ditentukan berdasarkan pada tujuan pemeriksaan. Titik pengambilan contoh air tanah harus memperhatikan pola arah aliran air tanah, dapat berasal dari air tanah bebas (tak tertekan) dan air tanah tertekan.

Air tanah bebas (akuifer tak tertekan)

Titik pengambilan contoh air tanah bebas dapat berasal dari sumur gali dan sumur pantek atau sumur bor dengan penjelasan sebagai berikut:

a. di sebelah hulu dan hilir sesuai dengan arah aliran air tanah dari lokasi yang akan di pantau;

b. di daerah pantai dimana terjadi penyusupan air asin dan beberapa titik ke arah daratan, bila diperlukan;

c. tempat-tempat lain yang dianggap perlu tergantung pada tujuan pemeriksaan.

Air tanah tertekan (akuifer tertekan)

Titik pengambilan contoh air tanah tertekan dapat berasal dari sumur bor yang berfungsi sebagai:

a. sumur produksi untuk pemenuhan kebutuhan perkotaan, pedesaan, pertanian, industri dan sarana umum.

b. sumur-sumur pemantauan kualitas air tanah.

c. sumur observasi untuk pengawasan imbuhan.

d. sumur observasi di suatu cekungan air tanah artesis.

e. sumur observasi di wilayah pesisir dimana terjadi penyusupan air asin.

f. sumur observasi penimbunan atau pengolahan limbah domestik atau limbah industri.

lokasi pengambilan contoh

Keterangan gambar:

  1. Sumur observasi untuk pemantauan dampak pencemaran pertanian
  2. Sumur observasi untuk pemantauan dampak pencemaran industri
  3. Sumur observasi untuk pemantauan dampak pencemaran intrusi air laut

 

CARA PENGUKURAN DI LAPANGAN

Penentuan koordinat dan elevasi titik lokasi

a. Lakukan penentuan koordinat dan elevasi dengan alat GPS, bila diperlukan;

b. Catat semua hasil penentuan dalam buku catatan khusus pemeriksaan di lapangan.

Pengukuran tinggi dan diameter sumur

a. Lakukan pengukuran tinggi dan diameter sumur (sesuai Lampiran B);

b. Catat semua hasil pengukuran dalam buku catatan khusus pemeriksaan di lapangan.

Pengukuran muka air tanah dan kedalaman sumur

a. Lakukan pengukuran muka air tanah dan kedalaman sumur;

b. Catat semua hasil pengukuran dalam buku catatan khusus pemeriksaan di lapangan.

Pencatatan lingkungan sumur

Lakukan pencatatan jenis sumur, konstruksi sumur, tahun pembuatan, pemilik sumur, lokasi atau denah sumur dan lainnya.

CARA PENGAMBILAN CONTOH

Cara pengambilan contoh pada sumur bor

Cara pengambilan contoh pada sumur produksi

Lakukan pengambilan contoh pada sumur produksi dengan cara membuka kran air sumur produksi dan biarkan air mengalir selama 1 menit 2 menit kemudian masukkan contoh ke dalam wadah contoh sesuai butir 8.3.

Cara pengambilan contoh pada sumur pantau

Kuras dahulu sumur pantau hingga seluruh air pada pipa sumur pantau habis, tunggu sampai air terkumpul kembali, lalu ambil contoh uji.

Bila menggunakan alat Bailer, lakukan langkah-langkah berikut:

a. baca petunjuk penggunaan alat pengambil contoh;

b. turunkan alat pengambil contoh (Bailer) ke dalam sumur sampai kedalaman tertentu;

c. angkat alat pengambil contoh setelah terisi contoh;

d. buka kran dan masukan contoh air ke dalam wadah.

Bila menggunakan pompa maka langsung diambil dari keluaran pompa.

Cara pengambilan contoh pada sumur gali

Lakukan pengambilan contoh pada sumur gali, dengan langkah-langkah sebagai berikut:

a. baca petunjuk penggunaan alat pengambil contoh;

b. turunkan alat pengambil contoh ke dalam sumur sampai kedalaman tertentu;

c. angkat alat pengambil contoh setelah terisi contoh;

d. pindahkan air dari alat pengambilan contoh ke dalam wadah.

Pengambilan contoh untuk pengujian kualitas air

a. siapkan alat pengambil contoh sesuai dengan jenis air yang akan di uji;

b. bilas alat dengan contoh yang akan diambil, sebanyak 3 (tiga) kali;

c. ambil contoh sesuai dengan peruntukan analisis;

d. masukkan ke dalam wadah yang sesuai peruntukan analisis;

e. lakukan segera pengujian untuk parameter suhu, kekeruhan, daya hantar listrik dan pH;

f. hasil pengujian parameter lapangan dicatat dalam buku catatan khusus;

g. pengambilan contoh untuk parameter pengujian di laboratorium dilakukan pengawetan seperti pada Lampiran C.

Pengambilan contoh untuk pengujian senyawa organik yang mudah menguap (Volatile Organic Compound, VOC)

Lakukan pengambilan contoh pada pengujian senyawa organik yang mudah menguap, dengan langkah-langkah sebagai berikut:

a. selama melakukan pengambilan contoh untuk pengujian senyawa VOC, sarung tangan lateks harus terus dipakai, sarung tangan plastik atau sintetis tidak boleh digunakan;

b. saat mengambil contoh untuk analisa VOC, contoh tidak boleh terkocok untuk menghindari aerasi, aerasi contoh akan menyebabkan hilangnya senyawa yang mudah menguap dari dalam contoh;

c. bila menggunakan alat bailer (Gambar 1):

  1. jangan menyentuh bagian dalam septa, buka vial VOC 40 ml dan masukkan contoh secara perlahan ke dalam vial hingga terbentuk convex meniscus di puncak vial;
  2. tutup vial secara hati-hati dan tidak boleh ada udara dalam vial;
  3. balikkan vial dan tahan;
  4. bila terlihat gelembung dalam vial, contoh harus diganti dan ambil contoh yang baru.

CATATAN Contoh VOC biasanya dibuat dalam dua atau tiga buah contoh, tergantung kebutuhan laboratorium; ulangi pengambilan contoh bila diperlukan.

d. Seluruh vial diberi label yang jelas, bila menggunakan vial bening bungkus dengan aluminium foil dan simpan dalam tempat pendingin.

CATATAN Bila air tanah mengandung residual klorin tambahkan 80 mg Na2SO3 ke dalam 1 L contoh.

PENGUJIAN PARAMETER LAPANGAN

Pengujian parameter lapangan yang dapat berubah dengan cepat, dilakukan langsung setelah pengambilan contoh. Parameter tersebut antara lain; pH (SNI 06-6989.11-2004), suhu (SNI 06-6989.23-2005), daya hantar listrik (SNI 06-6989.1-2004), alkalinitas (SNI 06- 2420-1991), asiditas (SNI 06-2422-1991), klor bebas (SNI 06-4824-1998) dan oksigen terlarut (SNI 06-6989.14-2004).

Jaminan mutu dan pengendalian mutu

Jaminan mutu

a. Gunakan alat gelas bebas kontaminasi.

b. Gunakan alat ukur yang terkalibrasi.

c. Dikerjakan oleh petugas pengambil contoh yang kompeten.

Pengendalian mutu

Untuk menjamin kelayakan pengambilan contoh maka kemampuan melacak seluruh kejadian selama pelaksanaan pengambilan contoh harus dijamin.

Kontrol akurasi dapat dilakukan dengan beberapa cara berikut ini:

Contoh split

a. Contoh terbelah diambil dari satu titik dan dimasukkan ke dalam wadah yang sesuai.

b. Contoh dicampur sehomogen mungkin serta dipisahkan ke dalam dua wadah yang telah disiapkan.

c. Kedua contoh tersebut diawetkan dan mendapatkan perlakuan yang sama selama perjalanan dan preparasi serta analisa laboratorium.

Contoh duplikat

a. Contoh diambil dari titik yang sama pada waktu yang hampir bersamaan.

b. Bila contoh kurang dari lima, contoh duplikat tidak diperlukan.

c. Bila contoh diambil 5 contoh - 10 contoh, satu contoh duplikat harus diambil.

d. Bila contoh diambil lebih dari 10 contoh, contoh duplikat adalah 10% per kelompok parameter matrik yang diambil.

Contoh blanko

a) Blanko media

  1. digunakan untuk medeteksi kontaminasi pada media yang digunakan dalam pengambilan contoh (peralatan pengambilan, wadah).
  2. peralatan pengambilan, sedikitnya satu blanko peralatan harus tersedia untuk setiap dua puluh) contoh per kelompok parameter untuk matrik yang sama.
  3. wadah, salah satu wadah yang akan digunakan diambil secara acak kemudian diisi dengan media bebas analit dan dibawa ke lokasi pengambilan contoh. Blanko tersebut kemudian dibawa ke laboratorium untuk dianalisis.

b) Blanko perjalanan

  1. blanko digunakan apabila contoh yang diambil bersifat mudah menguap.
  2. Sekurang-kurangnya satu blanko perjalanan disiapkan untuk setiap jenis contoh yang mudah menguap.
  3. berupa media bebas analit yang disiapkan di laboratorium.
  4. blanko dibawa ke lokasi pengambilan, ditutup selama pengambilan contoh dan dibawa kembali ke laboratorium.

Pelaporan : Catat pada lembar data jaminan mutu untuk setiap parameter yang diukur dan contoh yang diambil, lembar data parameter yang diukur di lapangan harus memiliki informasi sekurang-kurangnya sebagai berikut:

a. Identifikasi contoh.

b. Tanggal pengambilan contoh.

c. Waktu pengambilan contoh.

d. Nama Petugas Pengambil Contoh (PPC).

e. Nilai parameter yang diukur di lapangan.

f. Analisa yang diperlukan.

g. Jenis contoh (misalnya contoh, contoh split, duplikat atau blanko).

Komentar dan pengamatan.

Jumat, 23 Juli 2010

Uji pH Dengan pH Meter

Metode Uji Derjat Keasaman berdasarkan SNI 06-6989.11-2004

Dasar Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk pengujian parameter-parameter kualitas air dan air limbah antara lain Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air, Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 02 Tahun 1988 tentang Baku Mutu Air dan Nomor 37 Tahun 2003 tentang Metode Analisis Pengujian Kualitas air Permukaan dan Pengambilan Contoh Air Permukaan,

 

Metode ini berjudul Air dan air limbah Bagian 11: Cara uji derajat keasaman (pH) dengan menggunakan alat pH meter yang merupakan revisi dari SNI 06-2413-1991 dengan judul Metode pengujian kualitas fisika air, butir 3.10. Cara uji derajat keasaman (pH) dengan menggunakan alat pH meter

 

Sebelum dituliskan cara uji ini penting kita pahami beberapa istilah yang terkait antara lain, pH larutan merupakan minus logaritma konsentrasi ion hidrogen yang ditetapkan dengan metode pengukuran secara potensiometri dengan menggunakan pH meter. Larutan penyangga (buffer) pH merupakan larutan yang dibuat dengan melarutkan garam dari asam lemah-basa kuat atau basa lemah-asam kuat sehingga menghasilkan nilai pH tertentu dan stabil. Certified Reference Material (CRM), merupakan bahan standar bersertifikat yang tertelusur ke sistem nasional atau internasional.

 

Prinsip cara uji derajat keasaman (pH) dengan menggunakan alat pH meter adalah sebuah Metode pengukuran pH berdasarkan pengukuran aktifitas ion hidrogen secara potensiometri/elektrometri dengan menggunakan pH meter.

Bahan

  • Larutan penyangga (buffer) : Larutan penyangga 4, 7 dan 10 yang siap pakai dan tersedia dipasaran, atau dapat juga dibuat dengan cara sebagai berikut:
  • Larutan penyangga, pH 4,004 (250C) : Timbangkan 10,12 g kalium hidrogen ptalat, KHC8H4O4, larutkan dalam 1000 mL air suling.
  • Larutan penyangga, pH 6,863 (250C) : Timbangkan 3,387 g kalium dihidrogen fosfat, KH2PO4 dan 3,533 g dinatrium hidrogen fosfat, Na2HPO4, larutkan dalam 1000 mL air suling.
  • Larutan penyangga, pH 10,014 (250C) : Timbangkan 2,092 g natrium hidrogen karbonat, NaHCO3 dan 2,640 g natrium karbonat, Na2CO3, larutkan dalam 1000 mL air suling.

Peralatan

  • pH meter dengan perlengkapannya;
  • pengaduk gelas atau magnetik;
  • gelas piala 250 mL;
  • kertas tissue;
  • timbangan analitik; dan
  • termometer.

 

Persiapan pengujian

a. Lakukan kalibrasi alat pH-meter dengan larutan penyangga sesuai instruksi kerja alat setiap kali akan melakukan pengukuran.

b. Untuk contoh uji yang mempunyai suhu tinggi, kondisikan contoh uji sampai suhu kamar.

 

Prosedur

a. Keringkan dengan kertas tisu selanjutnya bilas elektroda dengan air suling.

b. Bilas elektroda dengan contoh uji.

c. Celupkan elektroda ke dalam contoh uji sampai pH meter menunjukkan pembacaan yang tetap.

d. Catat hasil pembacaan skala atau angka pada tampilan dari pH meter.

 

Jaminan mutu dan pengendalian mutu

Jaminan mutu

  1. Gunakan bahan kimia berkualitas pro analisis (pa).
  2. Gunakan alat gelas bebas kontaminasi dan terkalibrasi.
  3. Gunakan pH meter yang terkalibrasi
  4. Dikerjakan oleh analis yang kompeten.
  5. Lakukan anal isis segera atau lakukan anal isis di lapangan.

 

Pengendalian mutu

  1. Lakukan analisis duplo untuk kontrol ketelitian analisis.
  2. Buat kartu kendali (control chart) untuk akurasi analisis dengan CRM.

 

Pelaporan

Catat pada buku kerja hal-hal sebagai berikut:

  1. Parameter yang dianalisis.
  2. Nama analis dan tanda tangan.
  3. Tanggal anal isis.
  4. Rekaman hasil pengukuran duplo, triplo dan seterusnya.
  5. Rekaman kurva kalibrasi atau kromatografi.
  6. Nomor contoh uji.
  7. Tanggal penerimaan contoh uji.
  8. Batas deteksi.
  9. Rekaman hasil perhitungan/pengukuran.
  10. Hasil pengukuran persen spike matrix dan CRM atau blind sample (bila dilakukan).
  11. Kadar pH dalam contoh uji.

Selasa, 20 Juli 2010

Jamban Sehat

Kriteria Jamban Sehat

Tulisan ini merupakan sharing kami atas pertanyaan mas Tjok Agung Vidyaputra yang menanyakan tentang kriteria jamban sehat. Sebagian literatur diambil dari Water and Sanitation Program (WSP).

Jamban Sehat secara prinsip harus mampu memutuskan hubungan antara tinja dan lingkungan. Sebuah jamban dikatagorikan SEHAT jika :
1. Mencegah kontaminasi ke badan air
2. Mencegah kontak antara manusia dan tinja
3. Membuat tinja tersebut tidak dapat dihinggapi serangga, serta binatang lainnya.
4. Mencegah bau yang tidak sedap
5. Konstruksi dudukannya dibuat dengan baik & aman bagi pengguna.

Secara konstruksi kriteria diatas dalam prakteknya mempunyai banyak bentuk pilihan, tergantung jenis material penyusun maupun bentuk konstruksi jamban. Pada prinsipnya bangunan jamban dinagi menjadi 3 bagian utama, bangunan bagian atas (Rumah Jamban), bangunan bagian tengah (slab/dudukan jamban), serta bangunan bagian bawah (penampung tinja).

1. Rumah Jamban (Bangunan bagian atas)
Bangunan bagian atas bangunan jamban terdiri dari atap, rangka dan dinding. Dalam prakteknya disesuaikan dengan kondisi masyarakat setempat.
Beberapa pertimbangan pada bagian ini antara lain :
- Sirkulasi udara yang cukup
- Bangunan mampu menghindarkan pengguna terlihat dari luar
- Bangunan dapat meminimalkan gangguan cuaca (baik musim panas maupun musim hujan)
- Kemudahan akses di malam hari
- Disarankan untuk menggunakan bahan lokal
- Ketersediaan fasilitas penampungan air dan tempat sabun untuk cuci tangan

2. Slab / Dudukan Jamban (Bangunan Bagian Tengah)
Slab berfungsi sebagai penutup sumur tinja (pit) dan dilengkapi dengan tempat berpijak. Pada jamban cemplung slab dilengkapi dengan penutup, sedangkan pada kondisi jamban berbentuk bowl (leher angsa) fungsi penutup ini digantikan oleh keberadaan air yang secara otomatis tertinggal di didalamnya. Slab dibuat dari bahan yang cukup kuat untuk menopang penggunanya. Bahan-bahan yang digunakan harus tahan lama dan mudah dibersihkan seperti kayu, beton, bambu dengan tanah liat, pasangan bata, dan sebagainya. Selain slab, pada bagian ini juga dilengkapi dengan abu atau air. Penaburan sedikit abu ke dalam sumur tinja (pit) setelah digunakan akan mengurangi bau dan kelembaban, dan membuatnya tidak menarik bagi lalat untuk berkembang biak. Sedangkan air dan sabun digunakan untuk cuci tangan. Pertimbangan untuk bangunan bagian tengah.
  • Terdapat penutup pada lubang sebagi pelindung terhadap gangguan serangga atau binatang lain.
  • Dudukan jamban dibuat harus mempertimbangkan faktor keamanan (menghindari licin, runtuh, atau terperosok).
  • Bangunan dapat menghindarkan/melindungi dari kemungkinan timbulnya bau.
  • Mudah dibersihkan dan tersedia ventilasi udara yang cukup.

3. Penampung Tinja (Bangunan bagian bawah)
Penampung tinja adalah lubang di bawah tanah, dapat berbentuk persegi, lingkaran, bundar atau yang lainnya. Kedalaman tergantung pada kondisi tanah dan permukaan air tanah di musim hujan. Pada tanah yang kurang stabil, penampung tinja harus dilapisi seluruhnya atau sebagian dengan bahan penguatseperti anyaman bambu, batu bata, ring beton, dan lain lain.
Pertimbangan untuk bangunan bagian bawah antara lain :
  • Daya resap tanah (jenis tanah)
  • Kepadatan penduduk (ketersediaan lahan)
  • Ketinggian muka air tanah
  • Jenis bangunan, jarak bangunan dan kemiringan letak bangunan terhadap sumber air minum (lebih baik diatas 10 m)
  • Umur pakai (kemungkinan pengurasan, kedalaman lubang/kapasitas)
  • Diutamakan dapat menggunakan bahan lokal
  • Bangunan yang permanen dilengkapi dengan manhole

Pembuangan tinja yang tidak memenuhi syarat sangat berpengaruh pada penyebaran penyakit berbasis lingkungan, sehingga untuk memutuskan rantai penularan ini harus dilakukan rekayasa pada akses ini. Agar usaha tersebut berhasil, akses masyarakat pada jamban (sehat) harus mencapai 100% pada seluruh komunitas. Keadaan ini kemudian lebih dikenal dengan istilah Open Defecation Free (ODF). Suatu Masyarakat Disebut ODF jika :
  1. Semua masyarakat telah BAB (Buang Air Besar) hanya di jamban yang sehat dan membuang tinja/ kotoran bayi hanya ke jamban yang sehat (termasuk di sekolah)
  2. Tidak terlihat tinja manusia di lingkungan sekitar
  3. Ada penerapan sanksi, peraturan atau upaya lain oleh masyarakat untuk mencegah kejadian BAB di sembarang tempat
  4. Ada mekanisme monitoring umum yang dibuat masyarakat untuk mencapai 100% KK mempunyai jamban sehat
  5. Ada upaya atau strategi yang jelas untuk dapat mencapai Total Sanitasi

Suatu komunitas yang sudah mencapai status Bebas dari Buang Air Besar Sembarangan, pada tahap pasca ODFdiharapkan akan mencapai tahap yang disebut Sanitasi Total. Sanitasi Total akan dicapai jika semua masyarakat di suatu komunitas, telah:
  1. Mempunyai akses dan menggunakan jamban sehat
  2. Mencuci tangan pakai sabun dan benar saat sebelum makan, setelah BAB, sebelum memegang bayi, setelah menceboki anak dan sebelum menyiapkan makanan
  3. Mengelola dan menyimpan air minum dan makanan yang aman
  4. Mengelola limbah rumah tangga (cair dan padat).
Untuk menentukan suatu komunitas telah mencapai status ODF, dilakukan dengan proses verifikasi. Detail lengkap tentang proses verifikasi ODF ini akan disampaikan dilain kesempatan ....