Blogger templates

Tampilkan postingan dengan label Sanitarian Guide. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sanitarian Guide. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Juli 2012

Angka Kuman Peralatan Makanan


Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Angka Kuman Alat Makan

Bakteri adalah mikroorganisme bersel tunggal, berdiameter antara 0,5-2,5 m. Bentuk ada bulat, batang, koma atau spiral. Selnya berisi sitoplasma ada yang berkapsul, berspora dan ada yang mempunyai flagella. DNA bakteri terdiri dari kromosom dan plasmid. Sistem reproduksinya dengan cara membelah diri dan dalam pengecatan gram ada yang bersifat gram positif dan gram negatif. Bakteri dapat menghasilkan toksin terdiri dari endotoksin dan eksotoksin (Maddox, 1994).

Pertumbuhan bakteri pada pangan dipengaruhi oleh berbagai faktor dan setiap jenis bakteri membutuhkan kondisi pertumbuhan yang berbeda. Oleh karena itu jenis dan jumlah mikroba yang dapat tumbuh kemudian menjadi dominan pada setiap pangan juga berbeda. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikroba pada pangan yaitu :
  1. Karakteristik pangan meliputi aktivitas air, nilai pH, kandungan zat gizi dan keberadaan senyawa anti mikroba.
  2. Kondisi lingkungan yang terdiri dari suhu, keberadaan oksigen dan kelembaban.
Angka kuman adalah perhitungan jumlah bakteri yang didasarkan pada asumsi bahwa setiap sel bakteri hidup dalam suspensi akan tumbuh menjadi satu koloni setelah diinkubasikan dalam media biakan dan lingkungan yang sesuai. Setelah masa inkubasi jumlah koloni yang tumbuh dihitung dari hasil perhitungan tersebut merupakan perkiraan atau dugaan dari jumlah dalam suspensi tersebut. Angka kuman alat makan ini digunakan sebagai indikator kebersihan peralatan makanan minuman yang telah dicuci.

Menurut Petunjuk Pemeriksaan Mikrobiologi Usap Alat Makan dan Masak. Pusat laboratorium Kesehatan Depkes RI : 1991 alat makan yang digunakan harus sesuai dengan yang dipersyaratkan seperti bahan peralatan, keutuhan peralatan, fungsi dan letak peralatan. Kandungan bakteri dalam alat makan harus sesuai dengan yang ditetapkan oleh Depkes RI, yaitu peralatan makan yang kontak langsung dengan makanan yang siap disajikan tidak boleh mengandung angka kuman yang melebihi 100/cm2 permukaan alat dan tidak boleh mengandung E.coli/cm2 permukaan alat. Bila lebih dari angka kuman yang ditentukan berarti tidak memenuhi syarat Kesehatan. Untuk membuktikan apakah lingkungan tempat penjualan makanan dan higiene perorangan dalam mengelola kebersihan alat makan dalam kondisi yang baik maka perlu pemeriksaan angka kuman alat makan tersebut.

Pemeriksaan angka kuman alat makan dilakukan dengan usap alat makan dan pemeriksaan angka kuman di laboratorium dengan metode PCA (Plate Count Agar). Bila angka kuman yang terdapat pada alat makan lebih dari 100koloni/cm2 hal ini dapat mengkontaminasi makanan yang disajikan kepada pengunjung. Sehingga makanan yang terkontaminasi oleh mikrobia masuk ke dalam tubuh dan dapat menimbulkan penyakit.

Faktor-faktor yang mempengaruhi angka kuman alat makan
Faktor-faktor yang mempengaruhi uji angka kuman pada usap alat makan adalah :
  1. Bahan dasar alat makan: Bahan dasar piring antara lain dari kaca, keramik, plastik, perak dan lainnya. Bahan dasar sendok yang digunakan antara lain adalah stainless stell, kuningan, plastik, kaca dan lain-lain. Tekstur masing-masing alat makan ini berbeda sehingga berpengaruh terhadap pertumbuhan mikroorganisme.
  2. Kondisi awal piring: Kondisi awal piring adalah kondisi awal dimana piring tersebut belum dibersihkan, sehingga masih ada kotoran yang menempel pada peralatan makan tersebut. Kotoran yang dapat menempel pada peralatan tersebut antra lain Karbohidrat (nasi, sayuran, kentang), Lemak /minyak (antara lain sisa-sisa margarin dan mentega), Protein(sisa daging, ikan, telur), serta Mineral, susu, dan endapan kerak.
  3. Air pencuci. Penggunaan air pencuci untuk mencuci harus banyak, mengalir dan selalu diganti setiap kali untuk mencegah sisa kotoran dari pi ring.
  4. Bak pencuci. Bak pencuci berhubungan dengan kontaminasi silang antara peralatan dan bak pencucian yang tidak bersih.
  5. Tenaga pencuci. Tenaga pencuci berhubungan dengan kualitas pencucian bahan makanan, peralatan makan dan peralatan masak yang d igu nakan.
  6. Alat penggosok. Alat penggosok tergantung dari jenis alat penggosok yang digunakan misalnya dari sabut atau zat pembuang bau seperti abu gosok, arang atau jeruk nipis.

Refference:
  • Petunjuk Pemeriksaan Mikrobiologi Usap Alat Makan dan Masak. Ditjen PPM dan PLP Depkes RI: Jakarta. 1988
  • Mikrobiologi Pangan. Direktorat Surveilans dan Penyuluhan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya. Balai Pengawasan Obat dan Makanan: Jakarta. 2003
  • Higiene dan Sanitasi Pengolahan Pangan. Direktorat Surveilans dan Penyuluhan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya. Badan Pengawasan Obat dan Makanan: Jakarta. 2003
  • Mikrobiologi Pangan. Direktorat Surveilans dan Penyuluhan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya. Badan Pengawasan Obat dan Makanan: Jakarta. 2003

Selasa, 10 Juli 2012

Sanitasi Sampah

Sanitasi Sarana Pembuangan Sampah  

Sampah merupakan sisa hasil kegiatan manusia, yang keberadaannya banyak menimbulkan masalah apabila tidak dikelola dengan baik. Apabila dibuang dengan cara ditumpuk saja maka akan menimbulkan bau dan gas yang berbahaya bagi Kesehatan manusia. Apabila dibakar akan menimbulkan pengotoran udara. Kebiasaan membuang sampah disungai dapat mengakibatkan pendangkalan sehingga menimbulkan banjir. Dengan demikian sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat menjadi sumber pencemar pada tanah, badan air dan udara.

Pengertian lain menyebutkan, sampah adalah semua benda atau produk sisa dalam bentuk padat sebagai akibat aktivitas manusia, yang dianggap tidak bermanfaat dan tidak dikehendaki oleh pemiliknya dan dibuang sebagai barang yang tidak berguna. Sampah yang dihasilkan dari jasa boga pada umumnya berupa sampah organik yang sangat baik untuk makanan maupun tempat berkembang biaknya serangga terutama lalat dan tikus. Oleh karena itu sampah yang dihasilkan hendaknya langsung dimasukkan ke dalam tempat yang mudah ditutup sehingga tidak sempat menjadi makanan lalat dan tikus.

Berdasarkan asalnya, sampah digolongkan dalam dua bagian yakni sampah organik (sampah basah) dan sampah anorganik (sampah kering). Pada tingkat rumah tangga dapat dihasilkan sampah domestik yang pada umumnya terdiri dari sisa makanan, bahan dan peralatan yang sudah tidak dipakai lagi, bahan pembungkus, kertas, plastik, dan sebagainya.

Dampak sampah terhadap Kesehatan lingkungan, antara lain :     
  1. Dampak Terhadap Kesehatan : Pembuangan sampah yang tidak terkontrol dengan baik merupakan tempat yang cocok bagi beberapa organisme dan menarik bagi berbagai binatang seperti lalat dan anjing yang dapat menimbulkan penyakit. Potensi bahaya yang ditimbulkan, antara lain penyakit diare, kolera, tifus yang dapat menyebar dengan cepat karena virus yang berasal dari sampah dapat bercampur dengan air minum. Penyakit DBD dapat juga meningkat dengan cepat di daerah yang pengelolaan sampahnya kurang memadai, demikian pula penyakit jamur (misalnya jamur kulit). 
  2. Dampak Terhadap Lingkungan : Cairan terhadap rembesan sampah yang masuk kedalam drainase atau sungai akan mencemari air, berbagai organisme termasuk ikan dapat mati sehingga beberapa spesies akan lenyap dan hal ini mengakibatkan berubahnya ekosistem perairan biologis.
  3. Dampak Terhadap Sosial Ekonomi : Pengelolaan sampah yang kurang baik dapat membentuk lingkungan yang kurang menyenangkan bagi masyarakat, bau yang tidak sedap dan pemandangan yang buruk. Hal ini dapat berpengaruh antara lain terhadap dunia pariwisata dan investasi
Beberapa faktor penting yang harus diperhatikan dalam pengelolaan sampah antara lain :
  1. Dalam pengelolaan sampah harus memperhatikan sifat sampahnya kemudian dipilih tindakan atau langkah apa yang paling tepat untuk menangani sampah.
  2. Tersediannya sarana pembuangan/penampungan sampah yang memenuhi syarat Kesehatan sehingga tidak menjadi sumber pengotoran/penularan penyakit. Prinsip-prinsip pengelolaan pembuangan sampah sebagai berikut: 1). Adanya tempat sampah yang kedap air dan dilengkapi dengan tutup; 2). Memisahkan sampah berdasarkan sifatnya (misalnya sampah kering dan sampah basah) agar mudah memusnahkannya ;3). Menghindari mengisi tempat sampah yang melampaui kapasitasnya;4)    Kondisi kebersihan lingkungan tempat sampah harus baik sehingga tidak ada kepadatan serangga/lalat penular penyakit lainnya yang merugikan Kesehatan; 5).Sampah tidak boleh ditampung di tempat sampah melebihi 2 hari.
Peletakan tempat sampah.
  1. Di dalam ruangan disediakan tempat sampah dalam bentuk kontainer yang kedap air dan tertutup.
  2. Tempat sampah tidak boleh diletakkan di atas/pingggiran saluran air.
Sampah dalam tempat pengumpulan sementara diperbolehkan tertimbun paling lama 24 jam untuk selanjutnya dibuang ke tempat pembuangan akhir. Tempat pengumpulan sampah sementara hendaknya diberikan tutup. Pemberian tutup ini antra lain dimaksudkan untuk : 
  • Tidak mudah dijangkau dan dipakai untuk bersarangnya tikus dan serangga di antaranya lalat, kecoak atau tidak dapat dijamah oleh binatang-binatang besar seperti anjing dan kucing yang menyebabkan sampah berserakan.
  • Sampah-sampah yang telah terkumpul tidak mudah diterbangkan oleh angin, juga mengurangi dampak bau.
Dampak yang dapat ditimbulkan sampah, jika  tidak dikelola secara benar antara lain :
  • Menjadi tempat berkembang biak dan sarang dari serangga terutama lalat dan tikus.
  • Menjadi sumber pengotoran tanah, sumber air permukaan, air tanah, maupun pencemaran udara.
  • Menjadi tempat hidup serta sumber kuman-kuman penyakit yang membahayakan Kesehatan masyarakat.
  • Menimbulkan bau yang tidak sedap dan tidak estetis

Selasa, 22 Mei 2012

Indikator Biologis Pencemaran


Indikator Bentos Indikator Biologis Pencemaran

Pada kebanyakan habitat akuatik seperti pada aliran yang mengalir (lotic), jika kualitas airnya mendukung keanekaragaman komunitas makro-invertebrata, maka akan terjadi keseimbangan antara spesies terhadap jumlah individu yang ada. Yang dimaksud makro-invertebrata adalah semua jenis hewan berukuran makroskopik, tidak bertulang belakang, dapat hidup melayang, menempel pada substrat, pada vegetasi dan pada benda-benda lain di dalam air selama beberapa saat atau selama fase hidupnya, sedangkan makrobenthos sendiri adalah makroinvertebrata yang hidup di dasar perairan.

Pada saat komunitas organisme akuatik merespon terhadap perubahan kualitas habitatnya melalui pengaturan struktur komunitasnya, beberapa habitat dapat didominasi oleh beberapa jenis organisme tertentu. Dengan demikian, karakteristik parameter fisika dan kimia dapat mempengaruhi kepadatan, komposisi jenis, produktivitas dan kondisi fisiologis populasi organisme (biotik) akuatik. Hal ini juga dapat diasumsikan bahwa kualitas air dan faktor lingkungan lainnya dapat mempengaruhi parameter biotik, sehingga parameter biotik dapat digunakan sebagai indikator dampak kualitas air.

Terdapat sistem penilaian status sungai berdasarkan kelompok taksa organisme makrobenthos sebagai indikator pencemaran organik. Pendekatan biotik ini didasarkan atas kelompok taksa yang memiliki tingkatan kepekaan tertentu terhadap kualitas air. Kepekaan kelompok taksa makrobenthos yang berbeda-beda terhadap pencemaran air memiliki keistimewaan, yaitu sebagai bioindikator pencemaran. Perbedaan tersebut terutama bersumber pada perbedaan dalam sistem trachea (alat pernafasan) dan sumber oksigen yang digunakan untuk pernafasan. Dengan penerapan metode ini maka dapat secara langsung didapatkan kondisi sungai berdasarkan keberadaan makrobenthos yang ditemukan secara kasat mata. Selain itu metode ini juga mudah .

Rabu, 15 Februari 2012

Penyakit Karena Cacing Cambuk


Soil Transmitted Helminth Karena Cacing Cambuk (Trichuris trichiura)

Soil Transmitted Helminth (STH) adalah cacing yang dalam siklus hidupnya memerlukan stadium di tanah yang sesuai untuk berkembang menjadi bentuk infektif bagi manusia. Jenis STH yang paling penting yang penularannya melalui lalat sebagai vektor mekanik adalah Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichiura. Kedua jenis cacing ini termasuk dalam kelompok infektif, dimana manusia merupakan hospesnya

Trichuris trichiura adalah spesies cacing yang termasuk ke dalam phylum Nematoda, kelas Aphasmidia, ordo Enoplida, super famili Trichuridae, famili Trichinellida dan genus Trichuris.

Cacing ini bersifat kosmopolit terutama ditemukan di daerah panas dan lembab, seperti di Indonesia. Cacing betina panjangnya kira-kira 5 cm, sedangkan cacing jantan kira-kira 4 cm. Bagian anterior langsing seperti cambuk, panjangnya kira-kira 3/5 dari panjang seluruh tubuh. Bagian posterior bentuknya lebih gemuk, pada cacing betina bentuknya membulat tumpul dan pada cacing jantan melingkar dan terdapat satu speculum. Bagian anteriornya seperti cambuk masuk ke dalam mukosa usus.

Trichuris trichiura
Seekor cacing betina diperkirakan menghasilkan telur setiap hari antara 3.000 10.000 butir. Telur berukuran 50-54 mikron x 32 mikron, berbentuk seperti tempayan dengan semacam penonjolan yang jernih pada kedua kutup. Kulit telur bagian luar berwarna kekuning-kuningan dan bagian dalamnya jernih (Lihat Gambar 5). Telur yang dibuahi dikeluarkan dari hospes bersama tinja.

Telur tersebut menjadi matang dalam waktu 3 6 minggu dalam lingkungan yang sesuai, yaitu pada tanah yang lembab dan tempat yang teduh. Telur matang ialah telur yang berisi larva dan merupakan bentuk infektif. Cara infeksi langsung bila secara kebetulan hospes menelan telur matang. Larva keluar melalui dinding telur dan masuk ke dalam usus halus. Sesudah menjadi dewasa cacing turun ke usus bagian distal dan masuk ke daerah kolon. Jadi cacing ini tidak mempunyai siklus paru. Masa pertumbuhan mulai dari telur yang tertelan sampai menjadi cacing dewasa betina mengeluarkan telur kira-kira 30 90 hari.

Untuk menghindari terjadi penyebaran penyakit kecacingan, maka perlu dilakukan tindakan untuk memutus rantai penularannya, yaitu pengobatan masal pada penderita, perbaikan gizi, dan perbaikan atau peningkatan sanitasi lingkungan.

Article Source:
  • Gandahusada, S, Ilahude, H.H.D, Pribadi, W. 2006. Parasitologi Kedokteran, Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
  • Hadiwartomo, 1994. Seminar Tentang Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Cacing. Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
  • Tjitra, E. 1991. Penelitian-Penelitian Soil Transmitted Helminth Di Indonesia, Cermin Dunia Kedokteran, Jakarta.

Kamis, 09 Februari 2012

Karakteristik Aedes Aegyti


Demam Derdarah dan Aedes Aegypti, Siklus Hidup dan Karakteristik

Masalah yang selalu menghantui kita setiap tahun, khususnya jajaran Kesehatan dan publik health community, adalah penyakit demam berdarah. Penyakit yang pertama kali ditemukan 1968 di Surabaya dan Jakarta ini, hampir setiap tahun menjadi primadonoa Kejadian Luar Biasa (KLB DBD), walupun tahun 2011 ini terjadi penurunan signifikan dibandingkan tahun 2010. Kita sebetulnya kita belum tahu persis penyebab penurunan itu, karena global warming sepertinya telah mengacaukan signal kelaziman epidemiologis konvensional. Namun kita tetap harus selalui waspada terhadap siklus lima tahunan DBD (epidemiologi lama ?).  Kejadian Luar Biasa (KLB) atau epidemi hampir terjadi setiap tahun di daerah yang berbeda tetapi seringkali berulang di wilayah yang sama dan secara nasional berulang setiap lima tahun (Suroso, 2004).

Berikut beberapa hal yang perlu kita refresh kembali, terkait demam berdarah ini. Penyakit demam berdarah dengue adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Ae.aegypti, yang ditandai dengan: (1) demam tinggi mendadak, tanpa sebab yang jelas, berlangsung terus-menerus selama 2 - 7 hari disertai perdarahan; (2) Manifestasi perdarahan termasuk uji Torniquet positif; (3) Jumlah trombosit = 100.000/l); (4) peningkatan hematokrit = 20%; dan (5) Disertai dengan atau tanpa pembesaran hati (hepatomegali).

Penyebab DBD adalah virus dengue yang sampai sekarang dikenal empat serotipe (dengue-1, dengue-2, dengue-3 dan dengue-4), termasuk dalam group B Artropod Borne Virus (Arbovirus). Keempat serotipe ini telah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Hasil penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa dengue-3 sangat berkaitan dengan kasus DBD berat dan merupakan serotipe yang paling luas distribusinya disusul oleh dengue-2, dengue-1 dan dengue-4 (Depkes, 2005).

Tiga faktor yang memegang peranan penting pada penularan virus dengue ini adalah manusia, virus dan nyamuk vektor. Nyamuk Ae. aegypti L. dapat mengandung virus pada saat menggigit manusia yang sedang mengalami viremia. Virus kemudian berada di kelenjar ludah nyamuk dan berkembang dalam waktu 8 10 hari (extrinsic incubation period) sebelum dapat ditularkan lagi pada manusia melalui gigitan berikutnya.

Tiga faktor yang berperan penting pada penularan infeksi virus dengue adalah manusia, virus dan vektor perantara. Virus dengue ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk Ae. aegypti. Nyamuk Aedes tersebut dapat mengandung virus dengue pada saat menggigit manusia yang sedang mengalami viremia, kemudian virus yang ada di kelenjar liur nyamuk berkembangbiak dalam waktu 8-10 hari sebelum dapat ditularkan kembali pada manusia pada saat gigitan berikutnya (Depkes, 2005).

Karakteristik Nyamuk Ae. aegypti
Nyamuk adalah serangga kecil berkaki panjang, bersayap dua, mempunyai antena yang panjang, beruas-ruas, sayapnya mempunyai noda-noda dan mempunyai vena dan jumbai, termasuk dalam Phylum Arthropoda, Kelas Insekta, Sub kelas Pterygota, Ordo  Diptera, Sub Ordo Nematocera, Famili Culicidae, Sub Famili Culicinae, Genus  Aedes, Species  Aedes aegypti L. (Borror & Delong, 1990). Nyamuk Ae. aegypti merupakan vektor utama yang menularkan virus dengue penyebab DBD. Nyamuk Ae. aegypti lebih menyukai darah manusia daripada binatang (antropofilik) dan bersifat menggigit pada beberapa orang sebelum merasa kenyang. Nyamuk Ae.aegypti L. ini hidup dan berkembang dengan baik di daerah tropis yaitu pada garis isotermis 200 yang terletak diantara 450 LU dan 350LS dengan ketinggian kurang dari 1000 meter di atas permukaan laut (Sugito, 1989).

Morfologi nyamuk Ae. aegypti terdiri dari telur, larva, kepompong, serta nyamuk dewasa, selengkapnya sebagai berikut :

Aedes Aegypti
Telur : Telur berwarna hitam berukuran 0,80 1 mm. Nyamuk Ae. aegypti L. bertelur pada air bersih di tempat penampungan air yang tidak kontak langsung dengan tanah seperti ember, vas bunga, kaleng bekas yang dapat menampungan air bersih dan juga pelepah daun yang dapat menampung air (Rozendall, 1997). Telur nyamuk Ae. aegypti L.berwarna hitam, mempunyai dinding bergaris garis dan membentuk seperti kasa. Telur akan diletakkan satu per satu pada dinding bejana berisi air tempatnya bertelur. Telur ini tidak berpelampung, panjang telur kira kira 1 mm dan berbentuk oval. Sekali bertelur nyamuk Ae. aegypti L. betina dapat 150 butir. Telur kering dapat bertahan sampai 6 bulan. Setelah kira kira 2 hari jika telur ini kontak dengan air maka akan menetas menjadi jentik ( Adam, 2005).

Jentik (larva): Menurut Adam (2005), telur akan menetas menjadi jentik atau yang sering disebut sebagai jentik. Jentik ini adalah stadium yang membutuhkan banyak makan dan akan mengalami pergantian kulit atau molting sebanyak empat kali. Setiap masa pergantian kulit tersebut disebut dengan instar. Instar 1, 2, 3 dan 4 akan memiliki perbedaan dalam hal ukuran tubuhnya, jumlah bulu bulunya dan pada stadium ini belum bisa dibedakan antara jantan dan betina.

Larva Ae. aegypti terdiri dari kepala, toraks dan abdomen serta terdapat segmen anal dan sifon dengan satu kumpulan rambut. Ada empat tingkat (instar) jentik sesuai dengan pertumbuhan larva tersebut, yaitu instar I berukuran paling kecil yaitu 1-2 mm, instar II 2,5-3,8 mm, instar III lebih besar sedikit dari instar II dan instar IV berukuran paling besar 5 mm. Larva instar IV mempunyai tanda khas yaitu pelana yang terbuka pada segmen anal, sepasang bulu sifon dan gigi sisir yang berduri lateral pada segmen abdomen (Hamzah, 2004).

Pada stadium larva ada perbedaan mendasar antara Ae. aegypti dan Ae.albopictus. Larva Ae. aegypti, prosesus torakalis jelas, tunggal dan tidak bergerigi. Abdomen berciri sifon pendek, bulu satu pasang, warna lebih gelap daripada abdomen, segmen anal dengan pelana tidak menutup segmen. Gigi sisir pada sifon dan segmen VII dengan duri samping. Larva Ae. albopictus mempunyai prosesus torakalis tidak jelas dan bergerigi. Abdomen berciri sifon pendek, bulu sifon satu berkas, warna lebih gelap daripada abdomen, segmen anal dengan pelana tidak menutup segmen, gigi sisir pada sifon dan segmen abdomen VII tanpa duri samping (Juwono, 1999).

Jentik akan beristirahat dengan posisi tegak lurus terhadap permukaan air dan jika disentuh atau terdapat getaran maka jentik akan aktif berenang menuju ke dasar. Jentik ini jika bernafas akan menuju ke permukaan air dengan posisi siphon berada di atas permukaan air untuk mengambil udara (Sugito, 1989). Keberlangsungan hidup jentik ini sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan seperti suhu air, kepadatan populasi jentik, jumlah makanan yang tersedia serta keberadaan predator di alam (WHO, 1997)

Kepompong : Bentuk pupa seperti terompet melengkung, kepala lebih besar ukurannya dibandingkan dengan tubuhnya. Mempunyai terompet yang berbentuk segitiga yang digunakan untuk bernapas. Pada bagian distal dari abdomen terdapat sepasang kaki pengayuh atau paddle yang berbentuk lurus dan runcing. Stadium pupa tidak memerlukan makan (Gandahusada dkk., 1988). Menurut Depkes (1997), pupa akan bertahan selama 1 5 hari sampai menjadi nyamuk dewasa tergantung dari suhu air habitatnya. Pada suhu 27 320 C pupa jantan memerlukan waktu 1 2 hari untuk tumbuh dan berkembang menjadi nyamuk dewasa. Pupa betina memerlukan waktu kurang lebih 2,5 hari untuk dapat berkembang menjadi nyamuk betina dewasa.

Pupa Ae. aegypti terdiri dari sefalotoraks, abdomen dan kaki pengayuh. Sefalotoraks mempunyai sepasang corong pernapasan yang berbentuk segitiga. Pada bagian distal abdomen ditemukan sepasang kaki pengayuh yang lurus dan runcing. Jika terganggu, pupa akan bergerak cepat untuk menyelam beberapa detik kemudian muncul kembali ke permukaan air (Hamzah, 2004).

Kepompong (pupa) berbentuk seperti koma, bentuknya lebih besar tetapi lebih ramping dibandingkan dengan larva (jentiknya). Pupa berukuran lebih kecil jika dibandingkan dengan rata-rata pupa nyamuk lain (Depkes, 2005).

Nyamuk dewasa : Nyamuk dewasa mempunyai panjang kurang lebih 3 4 mm.Bagian tubuhnya terdiri dari kepala, dada (toraks) dan perut (abdomen) Memiliki warna dasar hitam dengan bintik bintik putih terdapat di seluruh tubuhnya dan di kaki akan berbentuk cincin. Memiliki gambaran atau venasi yang jelas pada sayapnya yang membedakan dengan spesies yang lainnya. Lyre berupa sepasang garis putih lurus di bagian tengah dan di bagian tepi tepinya berupa garis lengkung berwarna putih (Gandahusada dkk,. 1988).

Menurut Hamzah (2004), nyamuk Ae. aegypti dewasa tubuhnya terdiri dari kepala, toraks dan abdomen. Ae. aegypti dewasa mempunyai ciri-ciri morfologi yang khas, yaitu :
  1. Mempunyai warna dasar yang hitam dengan belang-belang putih yang terdapat pada bagian badannya, terutama tampak jelas pada kaki pada bagian basal.
  2. Pada bagian dorsal toraks tumbuh bulu-bulu halus yang membentuk gambaran lyra, yaitu sepasang garis putih sejajar di tengah dan garis lengkung putih yang tebal pada tiap sisinya.
Nyamuk dewasa Ae. aegypti berukuran panjang 3-4 mm, pada stadium dewasa berukuran lebih kecil jika dibandingkan dengan rata-rata nyamuk lain dan mempunyai warna dasar hitam dengan bintik-bintik putih pada bagian badan dan kaki. NyamukAe. aegypti dewasa memiliki probosis berwarna hitam, skutelum bersisik lebar berwarna putih dan abdomen berpita putih pada bagian basal. Ruas tarsus kaki belakang berpita (Sungkar, 2005).

Sedangkan menurut Pratomo dan Rusdyanto (2003), nyamukAe. albopictus  mempunyai ciri-ciri morfologi sebagai berikut:
  • Nyamuk berukuran lebih kecil, berwarna gelap tidak tampak kasar.
  • Tibia kaki belakang tanpa gelang putih.
  • Mesotonum dengan garis memanjang atau kumpulan sisik berwarna putih mirip tanda seru.
  • Sisik-sisik putih pada paha atau femur dalam bentuk bercak-bercak putih tidak teratur. 
  • Ada kumpulan sisik-sisik putih yang lebar di atas akar sayap di antara bulubulu supra alar

Selasa, 31 Januari 2012

Jumlah dan Jenis Mikroorganisme dalam Air

Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Jumlah dan Jenis Mikroorganisme dalam Air

Pengolahan limbah secara biologi adalah pengolahan air limbah dengan menggunakan mikroorganisme seperti ganggang, bakteri, protozoa, untuk menguraikan senyawa organik dalam air limbah menjadi senyawa yang sederhana. Pengolahan tersebut mempunyai tahapan seperti pengolahan secara aerob, anaerob dan fakultatif.

Pengolahan air limbah bertujuan untuk menghilangkan bahan organik, anorganik, amoniak, dan posfat dengan bantuan mikroorganisme. Penggunaan saringan atau filter telah dikenal luas guna menangani air untuk keperluan industri dan rumah tangga, cara ini juga dapat diterapkan untuk pengolahan air limbah yaitu dengan memakai berbagai jenis media filter seperti pasir dan antrasit. Pada penggunaan sistem saringan anaerobik, media filter ditempatkan dalam suatu bak atau tangki dan air limbah yang akan disaring dilalukan dari arah bawah ke atas (Laksmi dan Rahayu, 1993).

Bau : Bau yang keluar dari dalam air dapat langsung berasal dari bahan buangan atau air limbah kegiatan industri, atau dapat juga berasal dari hasil degradasi bahan buangan oleh mikroba yang hidup di dalam air (Wardhana, 1999). Zat organik dalam limbah, yang secara umum mewakili bagian yang mudah menguap dari seluruh benda padat yang terdiri dari senyawa nitrogen, karbohidrat, lemak-lemak dan minyak-minyak mineral, bentuknya tidak tetap dan membusuk dan mengeluarkan bau yang tidak sedap (Mahida, 1993).

Timbulnya bau pada air limbah secara mutlak dapat dipakai sebagai salah satu tanda terjadinya tingkat pencemaran air yang cukup tinggi (Wardhana, 1999 ). Beberapa karakteristik fisik ini mencerminkan kualitas estetik dari air limbah (seperti warna dan bau ), sedangkan karakteristik lain seperti pH dan temperatur dapat memberikan dampak negatif pada badan air penerima.

Menurut Sunu (2001), faktor - faktor yang mempengaruhi jumlah dan jenis mikroorganisme di dalam air adalah :

Water Micro Organism
Sumber air :Jumlah dan jenis mikroorganisme di dalam air dipengaruhi oleh sumber air seperti air laut, air hujan, air tanah dan air permukaan. Komponen nutrient dalam air - Secara alamiah air mengandung mineral-mineral yang cukup untuk kehidupan mikroorganisme. Air buangan sering mengandung komponenkomponen yang dibutuhkan oleh spesies mikroorganisme tertentu. Komponen beracun - Bila terdapat di dalam air akan mempengaruhi jumlah dan jenis mikroorganisme yang terdapat di dalam air sebagai contoh asam-asam organik dan anorganik dapat membunuh mikroorganisme dan kehidupan lainya dalam air. Organisme air - Adanya organisme lain di dalam air dapat mempengaruhi jumlah dan jenis mikroorganisme air, seperti protozoa dan plankton dapat membunuh bakteri. Faktor fisik - Faktor fisik seperti suhu, pH, tekanan osmotik tekanan hidrostatik, aerasi dan penetrasi sinar matahari dapat mempengaruhi jumlah dan jenis mikroorganisme yang terdapat di dalam air.

Tujuan pemrosesan air limbah secara biologi adalah untuk menghilangkan bahan organik dan anorganik yang terlarut dalam air yang sukar mengendap melalui proses penguraian biologis, penguraian ini memerlukan oksigen pada proses aerobik dan pada proses anaerobik berlangsung tanpa oksigen, proses biologis dapat digunakan untuk meniadakan pospat kebanyakan sistem biologis dapat mentolerir naik turunnya suhu. Pada pengolahan biologi air limbah, perlu dipertahankan agar mikroorganisme dapat menunjukkan kemampuannya yang optimal seperti bakteri untuk mengambil bahan-bahan organik dengan merancang peralatan dan sistem pengolahan yang sesuai untuk pertumbuhan bakteri.

Sebelum melakukan pengolahan perlu ditinjau bahwa pada proses pengolahan air limbah pH harus berkisar 7 atau 6,5 9,5 karena semua proses berlangsung pada suasana netral. Proses netralisasi pada umumnya dilakukan dengan penambahan Ca(OH)2 kemudian dilakukan pengadukan agar reaksi antara asam dan basa dapat berlangsung dengan baik (Djabu et al.,1 990).

Kamis, 12 Januari 2012

Pola Pencemaran Sumur Gali Oleh Tinja


POLA PENCEMARAN TANAH DAN AIR TANAH OLEH TINJA DAN LIMBAH DOMISTIK

Air tanah merupakan sumber air bersih murah dan praktis bagi masyarakat. Jenis sarana air bersih yang digunakan secara luas adalah sumur gali (SGL). Namun air tanah rawan terhadap baik melalui perembesan maupun bentuk kontaminasi lain seperti septik tank, jamban, tempat pembuangan limbah, tempat pembuangan sampah, kotoran ternak, sungai, irigasi dan lain-lain.

Sumur Gali
Indikator utama dari beberapa pencemaran yang bersumber dari tempat-tempat diatas adalah Bakteri E Coli. Salah satu metode yang digunakan untuk mengetahui bahwa lokasi sumur gali sudah berjarak aman dari sumber kontaminasi dengan menentukan jarak minimum yang didassarkan pada lama hidup bakteri coli atau organisme lainnya, minimum 3 hari atau 3 kali 24 jam.

Pola pencemaran tanah dan air tanah oleh tinja dan limbah domistik sangat bermanfaat dalam perencanaan sarana pembuangan tinja dan limbah domistik terutama dalam menentukan lokasi sumber air minum. Setelah tinja ditampung dalam lubang di dalam tanah, bakteri tidak dapat berpindah jauh dengan sendirinya. Bakteri akan berpindah secara horisontal dan vertikal ke bawah bersama air, air seni, atau air hujan yang meresap. Jarak perpindahan bakteri dengan cara ini bervariasi, tergantung pada berbagai faktor, diantaranya yang terpenting adalah porositas tanah. Perpindahan horisontal melalui tanah dengan cara itu biasanya kurang dari 90 cm dan ke bawah kurang dari 3 m pada lubang yang terbuka terhadap air hujan, dan biasanya kurang dari 60 cm pada tanah berpori (Soeparman, 2002).

Gotaas meneliti pembuangan secara buatan limbah cair secara akuifer di Negara Bagian California, AS, menemukan bahwa bakteri dapat dipindahkan sampai jarak 30 m dari titik pembuangannya dalam waktu 33 jam. Selain itu terdapat penurunan cepat jumlah bakteri sepanjang jarak itu karena terjadi filtrasi yang selektif dan kematian bakteri. Mereka juga menemukan bahwa pencemaran kimiawi berjalan dua kali lebih cepat (Soeparman, 2002).

Pada tanah kering, gerakan bahan kimia dan bakteri relatif sedikit. Gerakan ke samping praktis tidak terjadi. Dengan pencucian yang berlebihan (tidak biasa terjadi pada jamban atau tangki pembusuk), perembesan ke bawah secara vertikal hanya 3 meter.

Kecepatan penyerapan zat pencemar ke dalam tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor ( Setiadi, 2003), yaitu:

Tekstur tanah
Tekstur tanah menggambarkan ukuran partikel penyusun tanah yang sangat menentukan berapa banyak air yang dapat ditahan oleh tanah dan seberapa mudah partikel masuk melewati lapisan tanah. Misalnya tanah berpasir dan berkerikil akan mempercepat laju peresapan sedangkan lapisan tanah liat yang bersifat permiabilitas akan menahan/memperlambat laju resapan.

Struktur dan distribusi ukuran pori-pori
Semakin besar ukuran pori akan menyebabkan makin cepat dan makin dalam meresapnya zat pencemar dalam tanah. Menurut Wagner & Lanoix (dalam Soeparman, 2002,) bahwa pola pencemaran tanah oleh bakteri secara horizontal dapat mencapai 11 meter dan vertikal dapat mencapai 2 meter. Sedangkan pencemaran bahan kimia secara horizontal dapat mencapai 95 meter dan secara vertikal dapat mencapai 9 meter.

Menurut Todd (1980), faktor-faktor yang mempengaruhi tercemarnya air tanah di suatu lokasi adalah: 1) kedalaman muka air tanah dari tempat pembuangan limbah, 2) penyerapan tanah dilihat dari ukuran butir, 3) arah dan kemiringan muka air tanah, 4) permeabilitas tanah, 5) jarak horisontal antara sumber pencemar dengan sumur.

Dalam menentukan lokasi sumur gali, sangat penting diperhatikan jarak perpindahan maksimum dari bahan pencemar serta arah perpindahan, yang selalu searah dengan arah aliran air tanah. Sehingga penempatan sarana pembuangan tinja perlu memperhatikan aspek kemiringan, permeabilitas dan tinggi tanah.

Senin, 16 Mei 2011

Kondisi Sanitasi Buruk dan Kejadian Diare


Pengaruh Kondisi Sanitasi yang Buruk terhadap Kejadian Penyakit Diare 
Bagi keluarga besar Sanitarian khususnya dan Public Health umumnya mengenal penyakit Diare sebagai salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sudah sangat kita pahami kiprahnya. Bahkan penyakit diare ini menjadi soko guru pijakan SPM (Standard Pelayanan Minimal) program Penyehatan Lingkungan. Karena sepertinya program penyehatan lingkungan belum mempunyai cantolan SPM. Dan ini akan menyangkut program, kegiatan, anggaran, dan lain lain.  Konon asbabun nuzul SPM ini melahirkan beragam argumen, mulai global fund, kemampuan penganggaran daerah, dan teknis kebijakan lainnya, yang sangat jauh untuk dapat dipahami oleh cucuk lampah seperti saya. Dan beruntung kita masih punya diare, SPM milik saudara sekandung kita sehingga disaat harus menyusun perencanaan masih punya induk semang.

Urusan penyakit diare dari berbagai faktor muaranya masih akan berujung pada masalah jamban, air bersih dan perilaku. Sebagaimana dikemukakan bahwa : Tantangan pembangunan sanitasi di Indonesia adalah masalah sosial budaya dan perilaku penduduk yang terbiasa buang air besar (BAB) di sembarang tempat, khususnya ke badan air yang juga digunakan untuk mencuci, mandi dan kebutuhan higienis lainnya (Depkes RI, 2008)

Kemampuan berfikir dan profesionalisme Sanitarian dan Public Health (sepertinya) memang masih harus dekat dengan persoalan ini. Benar simbah bilang, sementara di negara lain orang sudah berkutat di bulan, kita masih berkutat di urusan jamban. Namun ini memang kondisi faktual kita, sehingga ketika suatu hari kita harus mengisi permintaan data dari pusat terkait data pemantauan peredaran barang yang berhubungan dengan penipisan lapisan Ozon, kita toleh kanan toleh kiri. Ketika itu saya teringat masa indah ketika sekolah. Ketika segala hal kita pelajari, mulai ukur tanah, deteksi sumber air bersih dengan gelombang listrik, uji porositas, teori dan praktikum dust sampler, teori simpul ADKL, dan segudang ilmu lain. Sementara saat ini kita terengah engah dikejar berbagai permasalah Kesehatan lingkungan yang kian hari kian berkembang, tanpa mampu kita ikuti hikayat dan asbabun nuzulnya.

Mohon maaf, tulisan ini menjadi seperti infotainment. Kita kembali ke Diare dulu. Sebuah penyakit yang masih dianggap sebelah mata oleh sebagian masyarakat, karena kalah pamor dari AIDS, Narkoba, Polio, atau Cancer. Padahal sebagaimana dikemukakan bahwa :
1.        Buruknya kondisi sanitasi merupakan salah satu penyebab kematian anak di bawah 3 tahun yaitu sebesar 19% atau sekitar 100.000 anak meninggal karena diare setiap tahunnya dan kerugian ekonomi diperkirakan sebesar 2,3% dari Produk Domestik Bruto (studi World Bank, 2007, dalam Depkes 2008).
2.        Penyakit diare hingga kini masih merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak diseluruh dunia terutama negara negara berkembang. Di Indonesia diperkirakan angka kesakitan antara 150 430 perseribu penduduk setahunnya (M.H Abdoerrachman dkk, 1985)